Banjir dan tanah longsor telah melanda beberapa wilayah di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Senin (2/11) dengan intensitas yang cukup tinggi. Hujan lebat yang mengguyur kawasan ini menyulut terjadinya banjir lahar dingin dari Gunung Semeru, membuat situasi semakin memburuk.
Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Kecamatan Pasirian, Jatiroto, dan Tempursari menjadi daerah yang paling terdampak. Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan, terutama karena banjir semakin parah akibat meluapnya sungai-sungai di kawasan tersebut.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD, Satriyo Nurseno, menjelaskan bahwa banjir ini tidak hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga oleh luapan Sungai Glidik yang berhulu di Gunung Semeru. Peningkatan debit air sungai membuat wilayah sekitarnya terendam dalam banjir.
Penyebab dan Dampak Banjir yang Menghantam Lumajang
Hujan deras yang mulai mengguyur sejak Minggu malam hingga Senin pagi menjadi pemicu utama terjadinya bencana ini. Selain itu, aliran Sungai Glidik juga mengalami peningkatan debit air yang signifikan, yang berdampak langsung pada banjir.
Dampak dari bencana ini sangat terasa di Kecamatan Tempursari, di mana jembatan penghubung Malang dan Lumajang tidak dapat dilalui kendaraan. Kejadian ini menyebabkan beberapa warga terisolasi, dan akses ke beberapa desa jadi terputus.
Banjir juga menggenangi sejumlah desa di wilayah Tempursari akibat luapan Sungai Rawaan dan Dol. Beberapa tanggul bahkan jebol, menyulitkan upaya evakuasi dan penyelamatan bagi mereka yang terdampak.
Jumlah Korban dan Dampak Sosial Banjir
Lebih dari seribu jiwa terkena dampak langsung dari genangan banjir, dengan tingkat genangan air yang bervariasi antara 20 hingga 60 sentimeter. Di Dusun Persil, terdapat sekitar 500 jiwa yang terjebak oleh air tersebut.
Dari informasi yang diperoleh, kecamatan Tempursari menjadi salah satu yang paling parah, di mana sekitar 600 jiwa juga terdampak. Kondisi ini tentu menambah beban bagi masyarakat yang sudah merasakan kesulitan akibat bencana.
Lebih dari seratus kepala keluarga terpaksa terisolasi karena akses jalan yang terhalang material longsor dan banjir. Kehidupan mereka menjadi terhambat, memperburuk situasi di lokasi bencana.
Tragisnya Kerugian Manusia Akibat Longsor
Peristiwa tanah longsor juga melibatkan korban jiwa di Dusun Jonggrang, Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, yang terjadi pada Sabtu malam. Akibat hujan lebat yang berlangsung terus-menerus, longsor mengakibatkan dua orang tewas.
Korban bernama Imron, berusia 40 tahun, dan putrinya yang berusia 9 tahun, Hilya, tertimbun saat mereka tidur di dalam rumah. Longsor pertama mengakibatkan ayahnya tertimbun setengah badan, dan anaknya tertimbun sepenuhnya, sebelum longsor susulan menambah parah situasi.
Proses evakuasi kedua korban dilakukan oleh masyarakat setempat, dan kini mereka telah dimakamkan. Namun, peristiwa tragis ini menambah kepedihan di tengah kondisi sulit akibat bencana yang melanda kawasan tersebut.
Langkah Selanjutnya untuk Penanganan Bencana
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui BPBD berkomitmen untuk memberikan bantuan bagi para korban yang terdampak. Tim di lapangan masih berusaha melakukan pendataan dan memastikan kebutuhan dasar dapat terpenuhi bagi mereka yang memerlukan.
Bantuan akan diberikan dalam bentuk semen dan bata untuk pemulihan tempat tinggal yang rusak akibat bencana. Selain itu, santunan duka cita senilai Rp 20.000.000 juga disiapkan untuk keluarga korban yang meninggal dunia dan paket sembako.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat yang terkena dampak dapat segera pulih dari tragedi ini. Namun, pemulihan bukan hanya soal material, tetapi juga dukungan mental dan sosial yang sangat dibutuhkan oleh korban bencana.








