Banjir rob merupakan permasalahan serius yang menghantui pesisir Surabaya, dengan dampak yang dirasakan oleh berbagai sektor. Salah satu wilayah yang paling parah terpengaruh adalah kawasan Kalianak di Kecamatan Krembangan, di mana kondisi ini telah mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.
Di kawasan Kalianak, salah satu sekolah yang menampung siswa-siswa adalah SD Yayasan Karya Putra. Setiap kedatangan banjir rob, proses belajar mengajar di sekolah ini terpaksa harus beradaptasi dengan kondisi yang sangat tidak nyaman akibat genangan air yang terus meresap.
Keberadaan banjir rob kerap kali menyebabkan murid-murid harus melepas sepatu saat memasuki kelas. Ketinggian air di luar sekolah bisa mencapai 30 hingga 40 sentimeter, sementara di dalam kelas, genangan air bisa lebih dari 10 sentimeter, jelas menambah kesulitan dalam menjalani proses pembelajaran.
Proses Pembelajaran Terganggu Akibat Banjir Rob
Yuli, seorang guru di SD Yayasan Karya Putra, menjelaskan bahwa sekolah telah berusaha menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi banjir rob yang melanda. “Kedua kelas di sekolah kami mengalami genangan yang cukup parah, tetapi kami tetap melanjutkan pembelajaran sesuai jadwal,” tuturnya, mencerminkan komitmen terhadap pendidikan meskipun dalam situasi sulit.
Sekolah ini telah beroperasi sejak tahun 1998 dan hampir setiap bulan mengalami dampak dari banjir rob. Meskipun ada upaya untuk memperbaiki infrastruktur, terbatasnya biaya menjadi kendala utama dalam penanganan masalah ini.
Guru lain, Nanda, juga mengamati bahwa ketinggian air rob semakin meningkat akibat proyek normalisasi Sungai Kalianak. “Kami khawatir genangan air ini semakin dalam, dan berharap ada perhatian dari pihak terkait untuk mengatasi permasalahan ini,” ungkapnya dengan cemas.
Kondisi Sosial Ekonomi Warga Kalianak yang Terdampak
Banjir rob tidak hanya berdampak pada pendidikan, tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi warga. Hendro, seorang warga Kalianak Timur, menjelaskan bahwa banjir rob telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama lebih dari enam dekade.
“Kami selalu berupaya memantau informasi pasang surut air laut untuk mengantisipasi dampaknya,” tambah Hendro. Ketinggian air yang bisa mencapai lebih dari 50 sentimeter tentunya akan mengganggu aktivitas ekonomi warga, terutama terkait sektor perikanan dan perdagangan.
Akses ke jalan juga terhalang oleh genangan air, mengakibatkan kemacetan dan kesulitan bagi pengendara untuk melintasi jalan-jalan yang tergenang. Kondisi ini memperburuk mobilitas warga dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Peringatan dari BMKG dan Prediksi Dampak dari Banjir Rob
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mencatat bahwa beberapa wilayah pesisir Surabaya terendam banjir rob sejak pertengahan bulan Juli dan diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan bulan berikutnya. Menurut Sutarno, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG, berbagai aspek kehidupan terkena dampak negatif dari fenomena ini.
Peningkatan ketinggian air yang mencapai 15 hingga 29 sentimeter di ruas jalan tertentu menyebabkan kebingungan di antara pengguna jalan. Sutarno mengingatkan warga untuk bersiap menghadapi kemungkinan lebih parah, terutama pada jam-jam tertentu ketika pasang air laut mencapai puncaknya.
BMKG juga memperingati bahwa pasang air laut ini diakibatkan oleh siklus astronomi, yang menandakan perlu adanya kewaspadaan, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di dekat pantai. Hal ini menjadi penting untuk pencegahan dini meskipun banjir rob telah menjadi fenomena rutin di kawasan tersebut.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan Akibat Banjir Rob yang Berkepanjangan
Lebih jauh, dampak dari banjir rob tidak hanya terkait dengan pendidikan dan ekonomi, tetapi juga terhadap lingkungan hidup. Genangan air kotor dapat memunculkan risiko kesehatan bagi warga, seperti berbagai penyakit akibat kurangnya sanitasi yang baik.
Air asin yang menggenangi daerah hunian dan perkotaan juga berpotensi merusak infrastruktur dengan menyebabkan korosi pada bangunan dan kendaraan. Ini tentunya akan berimbas pada kerugian ekonomi yang lebih luas bagi warga setempat.
Pencemaran sumber air tawar turut menambah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan akan air bersih, yang semakin langka. Hal ini berdampak negatif bagi ekosistem lokal dan dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut, seperti abrasi lahan pesisir dan hilangnya area hutan mangrove.
BMKG telah merekomendasikan beberapa langkah penanganan yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi banjir rob. Membuat tanggul, memperbaiki sistem drainase, dan melakukan pelestarian ekosistem mangrove adalah beberapa solusi yang disebutkan untuk meminimalkan dampak banjir rob yang berkepanjangan.








