Mahkamah Konstitusi (MK) baru-baru ini memberikan penegasan penting terkait pasal penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden. Dalam putusannya, MK menyatakan bahwa pasal tersebut tidak dapat diproses tanpa adanya aduan langsung dari pihak terkait, menjadikannya sebagai delik aduan absolut.
Putusan ini dicatat dalam nomor 275/PUU-XXIII/2025 usai pengujian konstitusionalitas yang diajukan oleh sekelompok mahasiswa. Permohonan ini menggugah perdebatan mengenai norma baru dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang mulai berlaku.
Dalam sidang yang berlangsung pada 12 Agustus, Ketua MK Suhartoyo menyatakan bahwa permohonan tersebut dikabulkan sebagian. Hal ini mengubah pandangan tentang pasal-pasal yang dianggap melanggar kehormatan Presiden dan Wakil Presiden.
Konteks Hukum dan Perubahan Terhadap KUHP Baru
Pasal-pasal dalam KUHP yang mengenai penghinaan terhadap kepala negara sebelumnya merupakan delik umum. Artinya, tindakan ini bisa diproses hukum tanpa perlu adanya laporan resmi dari Presiden atau Wakil Presiden yang bersangkutan.
Namun, dengan putusan MK, sekarang ada keharusan untuk adanya pengaduan dari Presiden atau Wakil Presiden sebelum proses hukum dapat dimulai. Ini merupakan langkah penting dalam mengedepankan prinsip keadilan dan transparansi dalam penegakan hukum.
Pemahaman baru ini menunjukkan bahwa penilaian mengenai pelanggaran kehormatan tidak boleh diserahkan kepada penilaian subjektif pihak lain. Hal ini penting untuk menjaga objektivitas dalam proses hukum.
Makna Penting dari Tindak Pidana Penghinaan
Putusan MK ini memberikan batasan jelas terhadap siapa yang memiliki hak untuk mengajukan aduan mengenai tindak pidana penghinaan. Hanya Presiden, Wakil Presiden, atau kuasa hukum yang memberikan kuasa khusus yang dapat melakukannya.
Keluarga, simpatisan, atau pihak ketiga lainnya tidak diperbolehkan untuk melaporkan tindakan yang dianggap menghina tanpa persetujuan langsung dari pejabat yang bersangkutan. Ini bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan menjaga martabat pemimpin negara.
Kepentingan hukum yang langsung dari pihak yang berwenang menjadi syarat mutlak untuk memulai proses penegakan hukum. Hal ini menekankan pentingnya suara dari mereka yang benar-benar merasa terancam kehormatannya.
Implikasi bagi Masyarakat dan Sistem Hukum
Pemberlakuan ketentuan ini diharapkan dapat mengurangi potensi laporan palsu atau laporan tidak berdasar yang dapat merugikan pihak tertentu. Sebagai akibatnya, masyarakat akan lebih memahami bahwa penghinaan kepada Presiden atau Wakil Presiden bukanlah hal sepele yang bisa dituduhkan sembarangan.
Lebih jauh, keputusan ini juga dapat melindungi para pemimpin dari tuduhan yang tidak adil bila tidak ada bukti yang kuat dan pengaduan resmi. Dengan demikian, diharapkan kepercayaan publik terhadap sistem hukum semakin meningkat.
Keputusan MK ini menjadi contoh penting untuk menunjukkan bagaimana keadilan dapat ditegakkan melalui prosedur yang jelas dan transparan. Ini adalah langkah menuju sistem hukum yang lebih baik dan lebih menghargai martabat setiap individu yang memegang jabatan publik.









