Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Yosep Falentinus Delasalle Kebo memberikan tanggapan serius mengenai kematian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang sering disapa Dokter Icha. Kasus ini terungkap setelah Icha ditemukan tewas gantung diri, diduga akibat mengalami depresi berat yang disebabkan oleh intimidasi dari anggota DPRD TTU.
Yosep menyatakan bahwa kematian Dokter Icha seolah membuka tabir gelap yang selama ini tersembunyi. Dia mengungkapkan bahwa para anggota DPRD TTU sering menimbulkan keributan ketika melakukan reses, dengan pengaruh alkohol yang kerap memicu kekacauan.
Kejadian yang menimpa Dokter Icha menyebabkan banyak pihak beranggapan bahwa ada yang tidak beres dalam perilaku anggota dewan. Pemkab TTU belum lama ini mengumumkan dukungannya terhadap upaya yang ditempuh keluarga Icha untuk mencari keadilan.
Perilaku Anggota Dewan yang Memprihatinkan dan Perlu Ditindaklanjuti
Bupati Yosep menegaskan bahwa sikap tidak pantas yang ditunjukkan oleh beberapa anggota DPRD tentunya harus mendapatkan perhatian serius. Keluarga Dokter Icha pun mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah dalam proses pencarian keadilan.
“Kami berkomitmen untuk mendukung semua langkah yang diambil oleh keluarga dalam memperjuangkan keadilan bagi Icha,” tuturnya. Dia menekankan pentingnya memastikan bahwa kasus ini tidak terabaikan dan harus disikapi dengan serius.
Dokter Icha merupakan putri daerah yang sukses berkat beasiswa dari pemerintah daerah TTU. Dalam pekerjaannya, dia memberikan pelayanan medis di Puskesmas Bitefa serta IGD Rumah Sakit Leona. Tentu, beban psikologis yang ditanggungnya akibat intimidasi menjadi sangat berat.
Faktor Intimidasi yang Memicu Depresi Mendalam
Penemuan tragis Dokter Icha pada 26 Juni menimbulkan tanya besar mengenai kondisi kesehatan mentalnya. Diduga intensitas intimidasi yang diterimanya dari anggota DPRD TTU, menjadi faktor yang mendorongnya untuk mengakhiri hidup. Kejadian ini menyentuh berbagai kalangan masyarakat dan menggugah kepedulian terhadap kesehatan mental tenaga medis.
Insiden tersebut berkaitan dengan kejadian di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Leona Kekefamenanu, di mana Icha sempat menangani seorang pasien anak yang menjadi korban gigitan ular. Pada saat yang sama, dua anggota DPRD TTU mengunjungi IGD dan konon mengungkapkan ketidakpuasan dengan cara yang intimidatif.
Kondisi ini diperparah oleh situasi di mana kedua pria tersebut diduga berada dalam pengaruh alkohol. Sebuah kenyataan yang menambah keprihatinan tentang betapa buruknya penyikapan yang dilakukan oleh para wakil rakyat terhadap tenaga medis yang seharusnya dihormati.
Pemeriksaan oleh Pihak Berwajib untuk Mengungkap Kebenaran
Polres TTU segera mengambil langkah untuk menyelidiki kasus ini dengan memanggil rekan-rekan kerja Dokter Icha yang hadir saat kejadian. Tindakan ini dianggap penting untuk mengumpulkan keterangan yang dapat memperjelas situasi yang terjadi di IGD RS Leona.
Kapolres TTU, AKBP Eliana Papote, juga menegaskan bahwa pihaknya akan segera memanggil tiga anggota DPRD yang terlibat, yaitu Veronika Lake, Norbertus Bani, dan Therensius Lazakar. Penyelidikan tidak hanya melihat dari satu sisi, melainkan dilakukan secara komprehensif.
Sementara itu, jika kita melihat situasi saat ini, banyak pihak berharap agar anggota dewan tersebut tidak menghindar dari tanggung jawabnya. Mereka harus memberikan klarifikasi yang jelas terkait peran mereka dalam insiden yang mengakibatkan tragis ini.
Pentingnya Kesadaran Kesehatan Mental di Kalangan Tenaga Medis
Kepergian tragis Dokter Icha seharusnya menjadi pengingat bahwa kesehatan mental tidak boleh diabaikan. Banyak tenaga medis yang menghadapi tekanan dan tuntutan tinggi dalam pekerjaan mereka, dan penting untuk ada dukungan psikologis bagi mereka.
Masyarakat pun seharusnya sadar akan dampak dari tindakan intimidasi yang dapat berakibat fatal. Dukungan mental dan fisik adalah hak yang harus diperoleh setiap profesional medis. Ini adalah sebuah isu yang memerlukan perhatian tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga kesadaran masyarakat secara luas.
Penting bagi institusi terkait untuk memastikan bahwa tenaga medis dilindungi dan tidak menjadi korban intimidasi. Melalui kesadaran dan tindakan preventif, kita bisa menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik dan lebih aman bagi semua tenaga kesehatan.


