Pada Rabu, 15 Juli lalu, sebuah tragedi melibatkan tenggelamnya kapal yang dikenal sebagai KM Nurul Salsa terjadi di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Andi Samad, seorang penumpang yang selamat, menceritakan pengalaman mendalam dan menegangkan saat kapal tersebut terjebak dalam gelombang tinggi yang membuatnya karam.
Andi berserta lima penumpang lainnya terpaksa menghadapi situasi mengerikan ketika kapal kehilangan tenaga akibat gelombang setinggi lebih dari tiga meter. Mereka terombang-ambing di tengah lautan dan berjuang bertahan hidup selama empat hari sebelum akhirnya diselamatkan oleh tim SAR.
“Saat kapal mulai goyah dan miring, saya bisa merasakan kepanikan di antara penumpang,” ungkap Andi saat wanita reporter mengajukan pertanyaan di Rumah Sakit Umum Daerah KH Hayyung Selayar. Peristiwa tersebut mengguncang hati banyak orang, dan Andi menjadi suara dalam cerita yang mengharukan ini.
Detik-Detik Menegangkan Saat Kapal Tenggelam di Laut Sulawesi
Peristiwa mengerikan itu berlangsung sekitar pukul 05.00 WITA ketika kapal menerjang gelombang yang sangat hebat. Menurut pengakuan Andi, awak kapal berusaha menetralkan situasi dengan menurunkan jangkar, tetapi itu tidak cukup untuk menghalau masuknya air ke dalam kapal yang berkeadaan genting.
“Di tengah usaha untuk mencegah tenggelam, pompa diesel yang ada juga mengalami masalah,” tambahnya. Keberanian dan ikhtiar awak kapal dalam usaha menyelamatkan situasi sangat mengesankan, meskipun situasinya kian memburuk seiring semakin banyaknya air yang masuk ke lambung kapal.
Pada saat itulah, Andi yang memiliki pengetahuan dalam memperbaiki mesin, dipanggil untuk membantu. Meskipun mesinnya sempat berhasil dihidupkan, itu tidak cukup untuk menyelamatkan keadaan.
“Setelah mesin mati total, kami semua menyadari bahwa kami harus segera bersiap-siap untuk melompat,” paparnya. Dalam keadaan panik, ia berusaha menenangkan istrinya dan penumpang lainnya agar tetap tenang meski harapan semakin tipis.
Andi merasa harus mengambil langkah berani dalam menghadapi bukti nyata bahwa kapal tidak akan bertahan lebih lama lagi. Persiapannya untuk melompat ke laut menjadi pertanda bahwa mereka harus menggunakan kekuatan dan keberanian untuk bertahan hidup.
Persiapan Mempertahankan Diri di Tengah Laut yang Menghantui
Namun, saat melompat, Andi mengalami kecelakaan kecil ketika patahan kayu dari kapal menimpanya. Meskipun terluka, keinginan untuk selamat jauh lebih besar. Mendorong istri dan penumpang lain untuk menjaga satu sama lain merupakan bentuk keberanian yang luar biasa di tengah krisis.
Setelah keluar dari kapal, mereka terombang-ambing di laut dengan perasaan putus asa. Meski bertahan hidup tanpa adanya makanan atau perlindungan, Andi dan yang lainnya terus berjuang. Momen-momen ketegangan menunggu bantuan tiba menjadi ujian untuk setiap orang yang terlibat.
Bersama tiga penumpang lainnya—Bau Asseng (23), Diska Yanti (7), dan Sri Ardita (17)—mereka harus berjuang melawan rasa lapar dan haus selama beberapa hari. Keberanian dan harapan menjadi teman setia selama penantian yang panjang.
Operasi Pencarian oleh Tim SAR yang Berani dan Berpengalaman
Pada Rabu, 22 Juli, setelah empat hari tersesat, tim SAR gabungan melakukan pencarian di atas lautan untuk menemukan para penumpang yang hilang. Daerah operasi pencarian tersebut meliputi wilayah Kepulauan Sabalana hingga perairan Nusa Tenggara Barat.
“Kami menggunakan analisis data arus laut sebagai acuan untuk menentukan kemungkinan lokasi penumpang yang selamat,” jelas Kepala Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan. Strategi yang cermat dan terencana ini dilakukan agar proses pencarian berjalan efektif dan efisien.
Operasi pencarian kali ini terbagi menjadi dua sektor untuk meningkatkan efektivitasnya. Satu tim menggunakan KN SAR Pacitan untuk penyisiran bagian timur Kepulauan Sabalana, sedangkan tim lainnya menggunakan KLM Mattoangin untuk bagian barat.
Selain itu, pencarian juga difokuskan pada pulau-pulau yang tidak berpenghuni, di mana kemungkinan objek hanyut melebihi kemungkinan di tempat lainnya. Koordinasi antara tim sangat penting untuk menjaga harapan hidup bagi mereka yang terkatung-katung di lautan.
Pada hari kesembilan pencarian, harapan mulai menunjukkan hasil ketika beberapa anggota tim SAR mendengar suara yang mengisyaratkan keberadaan mereka. Adanya kerjasama dan komitmen, bukan hanya dari tim, tetapi juga dari masyarakat, diharapkan dapat mempermudah pencarian.








