Ketua Umum Keluarga Besar Putra Putri Polri, AH Bimo Suryono, meminta agar pihak kepolisian menyelidiki tindakan anarkis yang terjadi saat demonstrasi di kawasan Dago-Sulanjana, Kota Bandung, pada malam tanggal 20 Oktober. Dalam peristiwa tersebut, sebuah truk pengendali massa dari Polri diserang dengan berbagai benda berbahaya, yang menyebabkan beberapa anggota kepolisian terluka.
Bimo mengungkapkan bahwa penting untuk mengumpulkan bukti-bukti yang ada dan menindak tegas para pelaku penyerangan. Dia juga menegaskan bahwa setiap tindakan anarkis dalam demonstrasi harus diusut hingga tuntas untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Dalam pandangannya, demokrasi harus dihormati, tetapi anarkisme tidak boleh menjadi hal yang biasa. Penegakan hukum yang tegas dan profesional diperlukan agar setiap elemen masyarakat merasa aman saat menyampaikan pendapat.
Pentingnya Menjaga Tindakan Demokratis dalam Berbagai Aksi
Bimo mencatat bahwa kebebasan untuk berpendapat adalah hak konstitusi yang tidak bisa diabaikan. Namun, hak tersebut tidak bisa digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan terhadap orang lain atau fasilitas umum.
Menurutnya, aksi demonstrasi harus ditangani dengan lebih baik melalui peningkatan deteksi dini dan evaluasi terhadap pola pengamanan. Koordinasi yang baik antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan penyelenggara demonstrasi menjadi kunci untuk menciptakan situasi yang terkendali.
Dia juga berpendapat bahwa pemerintah harus mampu membedakan antara peserta demonstrasi yang ingin berpendapat secara damai dengan mereka yang berpotensi melakukan tindakan kriminal. Ini penting untuk mencegah ketegangan yang bisa berujung pada konflik lebih besar.
Langkah-Langkah Antisipatif untuk Mencegah Kerusuhan
Bimo menekankan bahwa langkah-langkah antisipatif harus diambil untuk mencegah kericuhan, tanpa mengurangi kebebasan rakyat dalam menyampaikan aspirasi. Pengamanan yang dilakukan harus mengedepankan prinsip profesionalitas dan proporsionalitas.
Ia memberikan penekanan khusus bahwa tindakan tegas bukan berarti harus bersifat keras. Setiap langkah yang diambil oleh aparat harus sesuai dengan hukum dan dapat dipertanggungjawabkan.
Penting untuk tidak menjadikan anarkisme sebagai hal yang dianggap biasa dalam demokrasi. Setiap tindakan kekerasan harus dihadapi dengan tindakan hukum yang jelas agar masyarakat tidak merasa terancam.
Pendidikan Anti-Kekerasan dalam Kerangka Demokrasi
Selain itu, Bimo juga menyoroti pentingnya pendidikan masyarakat terkait hak dan kewajiban dalam berdemokrasi. Kesadaran akan pentingnya penyampaian pendapat yang damai harus menjadi prioritas bagi semua kalangan.
Dia berharap agar pendidikan tersebut bisa menumbuhkan semangat solidaritas dan saling menghormati di antara masyarakat. Memahami bahwa setiap orang memiliki hak untuk berpendapat dapat menciptakan iklim yang lebih kondusif dalam bernegosiasi dan mencari solusi.
Dalam hal ini, partisipasi aktif dari masyarakat menjadi unsur vital untuk menghindari potensi konflik. Kesadaran kolektif berfungsi sebagai pendorong untuk membangun dialog yang konstruktif.
Kepentingan Penegakan Hukum yang Adil dan Transparan
Bimo menyampaikan keprihatinan terkait anggota kepolisian yang terluka dalam kejadian tersebut, berharap mereka mendapatkan perawatan yang layak. Dia juga meminta agar semua pihak terus mendukung penegakan hukum yang berkeadilan.
Keberhasilan penegakan hukum dalam mencegah kekerasan sangat bergantung pada kemampuan aparat untuk bertindak tegas namun tetap adil. Ini menjadi ukuran utama dalam mengelola hubungan antara masyarakat dan aparat keamanan.
Dengan kesadaran dan tindakan yang tepat, diharapkan aksi demonstrasi dapat berlangsung dengan tertib. Negara, menurut Bimo, harus dapat menunjukkan bahwa kekerasan bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah dalam masyarakat.








